KARYA.

Pertanyaan yang paling sering saya hadapi ketika bertemu media adalah “Kenapa baru sekarang setelah 6 tahun terlibat di industri musik”. Pertanyaan yang cukup tricky untuk dijawab, karena jawaban dari pertanyaan ini berarti saya harus menjabarkan pengalaman hidup saya di dunia musik selama 6 tahun dalam durasi yang dibatasi oleh waktu interview singkat dan jeda iklan. Saya memiliki trik sendiri untuk menjawab pertanyaan ini, biasanya setiap wawancara saya memiliki jawaban yang cukup beragam, berharap pendengar setia saya mendengarkan dan bisa merangkai jawaban demi jawaban untuk mendapatkan gambaran besar tentang apa yang saya alami.

Nah sekarang, kenapa saya menulis blog ini? Bukan untuk merangkai jawaban jawaban saya di setiap wawancara, bukan juga untuk membantah apa yang saya pernah bicarakan dan membuat hidden statement yang membuyarkan pikiran pembaca dan melihat saya disisi lain. Bukan.

Lalu apa tujuanya? Mengisi waktu makan siang? Bukan. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri, bahwa selama 6 tahun itu saya juga berkarya. Saya menorehkan warna, walau bukan di canvas saya sendiri, saya berkarya. Yang membedakan sekarang saya memiliki canvas besar yang saya isi sendiri, di ruang gallery yang saya pahat sendiri, serba sendiri, karena Terlalu lama sendiri mungkin? Hahaahhah. Bukan. Bukan romansa. Tapi eksistensi saya sebagai buruh seni, buruh seni yang pernah bermimpi punya karya, karya yang datang dari hati, karya diciptakan atas nama seni, berdasarkan intuisi, bukan matematika industri.

Dan disinilah saya, dengan karya saya. Berdiri berdampingan. Karena dia hidup, dia berbicara pada saya dia ingin hidup dan berkembang bersama saya. Dan dia menitipkan salam, salam untuk kalian yang menyempatkan membaca.

“Terima kasih”

Sembari tersenyum lebar.